Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tuesday, November 27, 2012

KETIKA WARGA MISKIN LOMBOK MEMILIH BETERNAK

Semula kelompok masyarakat yang bermukim di Desa Gontoran, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok, Nusa Tenggara Barat, bekerja serabutan untuk mempertahankan hidup sanak keluarganya.

Selain itu, mereka juga ada yang bercocok tanam di lahan terbatas, berdagang kecil-kecilan hingga mengandalkan upah dari jasa pekerjaan rumah tangga.

Namun kini, di desa kawasan perbatasan Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram itu banyak kandang ayam, meskipun lokasi itu tergolong permukiman padat penduduk. Pengelola kandang ayam itu merupakan anggota Kelompok Usaha Bersama (Kube), binaan Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi NTB.

Untuk mengimplementasikan program pemberdayaan warga miskin melalui Kube itu, Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil NTB, mendapat dukungan dana dari Kementerian Sosial, setiap tahun anggaran sejak 2009.

Program Kube merupakan kegiatan rutin tiap tahun anggaran yang didukung dana dekonsentrasi dari Kementerian Sosial, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kurang mampu seperti fakir miskin.

Sebagian sasaran Kube di Pulau Lombok, NTB, itu memilih menggeluti usaha ternak ayam dan sapi, yang dinilai cukup berpotensi meningkatkan kesejahteraan keluarga.

"Kami pilih usaha ayam pejantan karena menjanjikan keuntungan lumayan, waktu panennya pun tidak lama," kata Khaeruddin (42), anggota Kube di Desa Gontoran, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, yang ditemui di sela-sela aktivitasnya memelihara ayam pejantan di kediamannya.

Khaerudin mengaku menggeluti usaha ternak ayam pejantan (sejenis ayam kampung) sejak beberapa bulan lalu, dan sudah pernah sekali panen. Sebelumnya ia bekerja serabutan dengan penghasilan pas-pasan, sehingga dia pun akrab dengan kesulitan ekonomi.

Ia memulai usahanya dengan bantuan dana Kube sebesar Rp6,5 juta, yang digunakan untuk pembelian bibit ayam pejantan atau Day Old Chick (DOC) sebanyak 800 ekor, dan pakannya sebanyak tujuh kwintal (700 kilogram) seharga Rp616 ribu/kwintal.

Setelah memelihara selama 47 hari, ia menjual hasil ternaknya seharga Rp6.000 hingga Rp10.000/ekor sehingga mengantongi Rp7,3 juta. Keuntungannya yang diraih mencapai Rp800 ribu.

"Lumayan, karena jika terus berlanjut, maka kami akan mudah mengembalikan bantuan dana bergulir dari program Kube. Kehidupan ekonomi keluarga juga tidak sesulit dulu," ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Sariono (45), anggota Kube lainnya di Desa Gontoran, Lombok Barat, yang lebih memilih usaha ternak ayam daripada bekerja serabutan. Kini, Sariono tengah memelihara sebanyak 300 ekor ayam pejantan, dengan dukungan modal usaha sebesar Rp4 juta, yang baru akan panen sebulan kemudian.

Dalam pengelolaan keuangan pada usaha ternak ayak pejantan itu, Khaeruddin dan Sariono merupakan bagian dari hampir 800 orang anggota Kube yang berada dalam bimbingan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah Asa`adah yang dikoordinir Fauzan Muslim.

Sejumlah anggota Kube melalui program BLPS di Kabupaten Lombok Timur, juga memilih menggeluti usaha ternak, namun ternak sapi.

Menurut Najamuddin SPd, salah seorang pendamping program BLPS di Lombok Timur, yang ditemui di lokasi pembibitan sapi di di Dusun Menak, Desa Kalijaga Selatan, Kecamatan Aikmal, sasaran program BLPS yang didampinginya sejak 2010 itu mencapai 50 peternak sapi.

Dukungan anggarannya sebesar Rp150 juta yang dipergunakan untuk membeli 50 ekor sapi, dan dikelola oleh lima kelompok, masing-masing 10 ekor. Kelompok tersebut yakni Menak Bahagia, Menak Sejahtera, Menak Jaya, Menak Baru dan Menah Ramah.

Selama dua tahun lebih berusaha, sudah ada tambahan sebanyak 15 ekor sapi yang dihasilkan dari usaha itu.

"Nanti tahun depan atau setelah mencapai tiga tahun ada pengembalian induk sapi dan penyerahan satu ekor dari dua ekor yang dihasilkan dari usaha pembibitan itu untuk digulirkan kepada kelompok Kube BLPS lainnya, seekor lainnya merupakan hak peternak," ujarnya.

Menurut Najamudin, program Kube BLPS itu juga memotivasi peternak untuk memiliki lebih banyak ternak, sehingga selain ternak bantuan Kube yang dipelihara, peternak itu juga menambah ternak peliharaannya dari usaha swadaya sehingga yang digeluti bukan hanya ternak bantuan pemerintah.

Di lokasi pembibitan ini sudah ada 137 ekor sapi yang dipelihara, 65 ekor di antaranya merupakan bantuan Kube BLPS beserta hasil pembibitannya, dan sembilan ekor merupakan sapi bantuan Bappeda Provinsi NTB terkait program NTB Bumi Sejuta Sapi (BSS), dan lebih dari 50 ekor sapi lainnya merupakan milik perorangan.

"Dari usaha ternak bantuan program Kube BLPS ini, meskipun belum benar-benar keluar dari dari garis kemiskinan, namun tingkat kesejahteraan masyarakat di sini semakin baik, bisa lihat sendiri," ujarnya. (ant)

0 comments:

Post a Comment