Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Tuesday, November 27, 2012

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ALA PROGRAM KUBE

Program Kube itu merupakan salah satu upaya pengentasan kemiskinan secara komunitas yang telah dilaksanakan di wilayah NTB dengan dukungan APBN maupun APBD.

Pemerintah Provinsi NTB juga makin fokus memberdayakan komunitas warga miskin secara terpadu atau lintas sektor, sesuai arahan Presiden yakni pengentasan kemiskinan yang tidak lagi berbentuk bantuan lepas tetapi harus terpola.

Bukan hanya pemberian bantuan dari rumah ke rumah, melainkan menyasar komunitas miskin atau kelompok marginal yang tinggi aspek kemiskinannya, seperti nelayan dan komunitas miskin lainnya di kawasan perkotaan.

Pada Agustus lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar rapat kabinet terbatas di Istana Negara, Jakarta, yang antara lain membicarakan masalah kemiskinan, hingga merumuskan sinkronisasi program pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam pengentasan kemiskinan.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH M Zainul Majdi, juga diundang dalam rapat kabinet terbatas itu, bersama dua gubernur lainnya masing-masing Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Banten. Ketiga provinsi itu dianggap mampu mengurangi angka kemiskinan secara signifikan.

NTB menempati posisi enam besar nasional terkait laju penurunan angka kemiskinan, dan menjadi bagian dari provinsi yang mampu menekan angka kemiskinan di atas satu poin.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, pada posisi Maret 2012 jumlah penduduk miskin di NTB telah berkurang menjadi 852.640 jiwa atau 18,63 persen dari total penduduk sekitar 4,5 juta jiwa.

Terjadi penurunan angka kemiskinan sebesar 1,1 poin dibanding posisi yang sama pada periode sebelumnya. Pada Maret 2011, jumlah penduduk miskin NTB mencapai 894.770 jiwa, atau setara 19,73 persen dari jumlah populasi.

Umumnya penduduk miskin itu bermukim di perkotaan yakni tercatat sebanyak 443.335 jiwa, sedangkan di daerah pedesaan terdata sebanyak 419.407 jiwa.

Penentuan warga miskin itu merujuk pada garis kemiskinan 2012 yakni pendapatan keluarga sebesar Rp242.831 sebulan. Angka itu juga mengalami kenaikan dari garis kemiskinan 2011 yang mencapai Rp215.576 sebulan.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada 2012 mencapai 3,92 sedikit mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 3,54. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni dari 0,94 pada 2011 menjadi 1,27 pada 2012.

Jumlah penduduk miskin di Provinsi NTB pada Maret 2011 yang mencapai 894.770 jiwa atau 19,73 persen dari total jumlah penduduk sebanyak 4,4 juta jiwa itu, juga berkurang dibandingkan dengan keadaan pada Maret 2010 yakni sebanyak 1.009.352 jiwa, atau 21,55 persen. Terjadi pengurangan penduduk miskin sebesar 1,82 persen sejak Maret 2010 hingga Maret 2011.

Dari 894.770 jiwa penduduk miskin itu, di daerah perkotaan terdata sebanyak 448.138 jiwa atau 23,67 persen dari total penduduk miskin di NTB, sedangkan di daerah pedesaan berjumlah 446.632 jiwa atau 16,90 persen.

Dengan demikian, sejak tiga tahun terakhir ini penurunan angka kemiskinan di wilayah NTB cukup signifikan, sehingga Presiden Yudhoyono menaruh perhatian pada Provinsi NTB, sekaligus mengarahkan agar mengupayakan jumlah warga miskin terus berkurang secara signifikan hingga tersisa 14 persen di akhir 2013.

Untuk mencapai target penurunan angka kemiskinan hingga menyisahkan 14 persen itu, Pemerintah Provinsi NTB makin fokus memberdayakan komunitas warga miskin secara terpadu atau lintas sektor, sesuai arahan Presiden.

Tampaknya, program Kube dan program pemberdayaan masyarakat lainnya yang bersifat memotivasi komunitas warga miskin untuk bangkit menuju ketahanan ekonomi, patut didukung berbagai pihak.

Semakin banyak warga miskin yang giat beternak, maka hal itu akan semakin menurunkan angka kemiskinan. Upaya pemerintah menjadikan NTB daerah sentra produksi pangan pun makin berpeluang terealisasi. (ant)

KETIKA WARGA MISKIN LOMBOK MEMILIH BETERNAK

Semula kelompok masyarakat yang bermukim di Desa Gontoran, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok, Nusa Tenggara Barat, bekerja serabutan untuk mempertahankan hidup sanak keluarganya.

Selain itu, mereka juga ada yang bercocok tanam di lahan terbatas, berdagang kecil-kecilan hingga mengandalkan upah dari jasa pekerjaan rumah tangga.

Namun kini, di desa kawasan perbatasan Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram itu banyak kandang ayam, meskipun lokasi itu tergolong permukiman padat penduduk. Pengelola kandang ayam itu merupakan anggota Kelompok Usaha Bersama (Kube), binaan Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi NTB.

Untuk mengimplementasikan program pemberdayaan warga miskin melalui Kube itu, Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil NTB, mendapat dukungan dana dari Kementerian Sosial, setiap tahun anggaran sejak 2009.

Program Kube merupakan kegiatan rutin tiap tahun anggaran yang didukung dana dekonsentrasi dari Kementerian Sosial, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kurang mampu seperti fakir miskin.

Sebagian sasaran Kube di Pulau Lombok, NTB, itu memilih menggeluti usaha ternak ayam dan sapi, yang dinilai cukup berpotensi meningkatkan kesejahteraan keluarga.

"Kami pilih usaha ayam pejantan karena menjanjikan keuntungan lumayan, waktu panennya pun tidak lama," kata Khaeruddin (42), anggota Kube di Desa Gontoran, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, yang ditemui di sela-sela aktivitasnya memelihara ayam pejantan di kediamannya.

Khaerudin mengaku menggeluti usaha ternak ayam pejantan (sejenis ayam kampung) sejak beberapa bulan lalu, dan sudah pernah sekali panen. Sebelumnya ia bekerja serabutan dengan penghasilan pas-pasan, sehingga dia pun akrab dengan kesulitan ekonomi.

Ia memulai usahanya dengan bantuan dana Kube sebesar Rp6,5 juta, yang digunakan untuk pembelian bibit ayam pejantan atau Day Old Chick (DOC) sebanyak 800 ekor, dan pakannya sebanyak tujuh kwintal (700 kilogram) seharga Rp616 ribu/kwintal.

Setelah memelihara selama 47 hari, ia menjual hasil ternaknya seharga Rp6.000 hingga Rp10.000/ekor sehingga mengantongi Rp7,3 juta. Keuntungannya yang diraih mencapai Rp800 ribu.

"Lumayan, karena jika terus berlanjut, maka kami akan mudah mengembalikan bantuan dana bergulir dari program Kube. Kehidupan ekonomi keluarga juga tidak sesulit dulu," ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Sariono (45), anggota Kube lainnya di Desa Gontoran, Lombok Barat, yang lebih memilih usaha ternak ayam daripada bekerja serabutan. Kini, Sariono tengah memelihara sebanyak 300 ekor ayam pejantan, dengan dukungan modal usaha sebesar Rp4 juta, yang baru akan panen sebulan kemudian.

Dalam pengelolaan keuangan pada usaha ternak ayak pejantan itu, Khaeruddin dan Sariono merupakan bagian dari hampir 800 orang anggota Kube yang berada dalam bimbingan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah Asa`adah yang dikoordinir Fauzan Muslim.

Sejumlah anggota Kube melalui program BLPS di Kabupaten Lombok Timur, juga memilih menggeluti usaha ternak, namun ternak sapi.

Menurut Najamuddin SPd, salah seorang pendamping program BLPS di Lombok Timur, yang ditemui di lokasi pembibitan sapi di di Dusun Menak, Desa Kalijaga Selatan, Kecamatan Aikmal, sasaran program BLPS yang didampinginya sejak 2010 itu mencapai 50 peternak sapi.

Dukungan anggarannya sebesar Rp150 juta yang dipergunakan untuk membeli 50 ekor sapi, dan dikelola oleh lima kelompok, masing-masing 10 ekor. Kelompok tersebut yakni Menak Bahagia, Menak Sejahtera, Menak Jaya, Menak Baru dan Menah Ramah.

Selama dua tahun lebih berusaha, sudah ada tambahan sebanyak 15 ekor sapi yang dihasilkan dari usaha itu.

"Nanti tahun depan atau setelah mencapai tiga tahun ada pengembalian induk sapi dan penyerahan satu ekor dari dua ekor yang dihasilkan dari usaha pembibitan itu untuk digulirkan kepada kelompok Kube BLPS lainnya, seekor lainnya merupakan hak peternak," ujarnya.

Menurut Najamudin, program Kube BLPS itu juga memotivasi peternak untuk memiliki lebih banyak ternak, sehingga selain ternak bantuan Kube yang dipelihara, peternak itu juga menambah ternak peliharaannya dari usaha swadaya sehingga yang digeluti bukan hanya ternak bantuan pemerintah.

Di lokasi pembibitan ini sudah ada 137 ekor sapi yang dipelihara, 65 ekor di antaranya merupakan bantuan Kube BLPS beserta hasil pembibitannya, dan sembilan ekor merupakan sapi bantuan Bappeda Provinsi NTB terkait program NTB Bumi Sejuta Sapi (BSS), dan lebih dari 50 ekor sapi lainnya merupakan milik perorangan.

"Dari usaha ternak bantuan program Kube BLPS ini, meskipun belum benar-benar keluar dari dari garis kemiskinan, namun tingkat kesejahteraan masyarakat di sini semakin baik, bisa lihat sendiri," ujarnya. (ant)